Kehidupan seorang peternak dan inseminator
3 Kali Gagal, Akhirnya Bunting"
Kisah Pak Darto dan Sapi Betinanya
Di desa kecil bernama Cipeundeuy, tinggal seorang peternak sederhana (Pak Darto). Ia memelihara dua ekor sapi betina. Bukan peternakan besar, tapi baginya, dua ekor itu harapan hidup.
Saya pertama kali datang ke rumah Pak Darto sekitar setahun lalu. Sapi betinanya yang satu, Si Manis, sudah masuk usia siap kawin. Beliau semangat sekali:
“Kalau jadi bunting, Pak, nanti anaknya mau saya tabung buat biaya sekolah cucu.”
IB Pertama: Harapan Besar
Saya lihat tanda-tanda birahi Si Manis cukup jelas. Birahi sore, saya IB malam. Pak Darto senyum-senyum, “Bismillah, semoga jadi.”
Sebulan kemudian, saya datang untuk pemeriksaan kebuntingan. Hasilnya? Negatif.
Pak Darto kelihatan kecewa, tapi tetap tegar. “Nggak apa-apa, Pak. Coba lagi nanti” kata saya.
IB Kedua: Sedikit Ragu
Kali kedua, saya lebih hati-hati. Saya cek birahi lebih detail, waktu IB lebih tepat. Tapi... hasilnya masih sama. Si Manis belum bunting.
Saya jujur bilang ke Pak Darto, “Mungkin kondisi tubuhnya belum optimal. Coba ditambah mineral dan perhatikan pakan, ya Pak.”
Beliau nurut. Pakan ditambah, hijauan segar, garam mineral digantung di kandang. Sapi pun mulai kelihatan lebih segar.
IB Ketiga: Doa dan Deg-degan
Beberapa bulan kemudian, Si Manis birahi lagi. Kali ini Pak Darto agak ragu, “Pak... masih mau coba?”
Saya jawab, “Selagi belum tua, masih bisa, Pak. Kita coba lagi, tapi sambil ikhlas juga.”
IB ketiga dilakukan pagi hari. Posisi serviks bagus, sapi tenang, kondisi tubuh fit. Rasanya optimis, tapi tetap saya bilang "kita tunggu hasilnya nanti."
Hari Penentuan
Hari ke-40, saya datang dengan perasaan deg-degan. Pak Darto sudah menunggu di kandang, bahkan lebih dulu dari saya.
Saya mulai pemeriksaan rektal. Perlahan, saya senyum lebar.
“Alhamdulillah, bunting, Pak!”
Pak Darto langsung angkat tangan ke langit, “Ya Allah, akhirnya…”
Beliau duduk di bangku kayu, matanya berkaca-kaca.
“Bapak tahu nggak? Saya udah sempat mikir mau jual sapi ini. Tapi saya tahan. Ternyata memang belum waktunya.”
Pelajaran dari Si Manis
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa inseminasi bukan soal sekali suntik langsung jadi. Tapi soal ketekunan, evaluasi, dan kerja sama antara inseminator dan peternak.
Buat saya, buntingnya Si Manis bukan cuma sukses teknis, tapi kemenangan hati. Karena di balik satu pedet yang lahir, ada semangat, ada doa, dan ada harapan seorang kakek untuk masa depan cucunya.



Komentar
Posting Komentar